Tentu banyak yang bertanya-tanya ketika membaca judul dari tulisan ini. Atau mungkin mengira-ngira isinya, berkaitan dengan cerita asamara atau cinta segitiga. Kalo anda menebak seperti itu sayang sekali anda salah besar.
Berawal dari beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca artikel yang dimuat di harian Kompas. Artikel karya Gede Prama yang berjudul “Bahagia Menjadi Nomor Dua“. Dalam artikel tersebut sang penulis mengulas ide dari David C McClelland tentang masyarakat berprestasi atau yang terkenal dengan virus motivasi berprestasi.Fundamental dari idenya David C McClelland ini adalah kehidupan hanya layak dijalani bila menjadi nomor satu. Pengaruh dari ide ini tersebar luas dan implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun menurut sang penulis semua itu ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan, dan kenyamanan jiwa hanya sebagian hal yang harus dikorbankan.
Lebih dari itu isu pemanasan global,serangan AS ke Afganistan dan Irak, serta memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulunya sejuk seperti Thailand dan Myanmar, gesekan antara elit politik dan kekacauan pemilihan kepala daerah yang terjadi di negeri ini, hanyalah sebagai tanda dari penyebaran virus ini.
Hal sebaliknya justru datang dari kebalikan idenya David C McClelland. Yang disebut oleh penulis “Bahagia menjadi nomor dua” Seperti cerita dari India Mahatma Gandhi ikhlas memberikan kursi perdana menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus memberikan kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomor satu. Begitu juga yang pernah terjadi di Negeri ini. Ketika Mohammad Hatta menyelamatkan negeri ini dengan berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi nomor dua, demi menghindari terjadinya perselisihan dengan orang nomor satu pada saat itu.
Banyak kisah dalam artikel itu yang menceritakan bagaimana seseorang mengorbankan hidupnya hanya karena menganggap hidup orang lain lebih penting daripada hidupnya. Kisah yang menginspirasi sehingga terlahir orang-orang seperti guru yang rendah hati master Hsing Yun yang banyak dipuji karena karya indahnya, The Philoshopy of Being Second. Di salah satu pojok bukunya, ia menulis, “you are important, he is important, i am not“.
Pada waktu itu saya hanya bisa membaca dan membayangkan isi dari artikel tersebut, karena kejadian atau tokoh dalam artikel tersebut tidak saya kenal. Tanpa bisa merasakan atau melihat langsung kejadian tersebut. Lama waktu berlalu sampai pada suatu saat, ketika itu saya sedang menjadi pendengar yang baik dalam acara debat calon ketua suatu organisasi. Ketika itu salah satu kandidat menyatakan bahwa dia akan memilih kandidat lain, ketika ditanya siapa yang akan dipilihnya pada saat pemungutan suara nanti. Dia lebih memilih kandidat lain dari pada memilih dirinya sendiri yang juga merupakan kandidat ketua, dengan alasan bahwa kandidat lain yang dipilihnya tersebut akan dapat meluangkan waktu dan pikiran lebih banyak pada organisasi, dibandingkan dengan dirinya dan kandidat yang lain.
Hal itu mengingatkan kembali akan isi artikel”Bahagia Menjadi Nomor Dua“. Aneh bagi sebagian orang, kenapa harus menyia-nyiakan kesempatan bukankah kesempatan itu sangat berharga. Aneh bagi orang yang biasa menyembah ego. Tentu saja aneh.. Tapi menjadi yang kedua memberikan sesuatu yang lain bagi mereka yang menganut teori ini. Sebut saja raksasa pelayanan kelas dunia seperti Singapore airlines, keberhasilan mereka dikarenakan rajin mengajari orangnya bahwa”Orang lain penting, saya tidak penting”. Dalai Lama is a living spiritual giant. Mendapat nobel perdamaian dan penghargaan sipil tertinggi di As yang membuatnya sejajar George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia di balik semua ini juga serupa, musnahnya semua ego, hanya menyisakan kebajikan.
Menjadi nomor satu atau nomor dua itu semua adalah pilihan dan terserah bagi sang pemilih, mau menjadikan dirinya sebagai nomor satu atau cukup dengan menjadi nomor dua. Dan tentunya setiap pilihan akan selalu ada konsekuensi dibaliknya.
Jadi siapkah kita menghadapi konsekuensi itu?