Pada suatu sore yang cerah, di salah satu sudut kota Surabaya, aku duduk santai di sebuah taman depan suatu perumahan yang baru saja dibangun di kawasan surabaya timur. Setelah lelah berlari-lari tanpa arah yang jelas atau istilah kerennya disebut joging sambil menghabiskan waktu di sore hari sekaligus menyegarkan badan dengan berolahraga yang murah meriah.
Lama duduk termenung ditemani hembusan angin sore yang menyejukkan badan, perhatianku tertuju pada segerombolan anak yang sedang bermain sepakbola, entah apa itu bisa disebut sepakbola yang jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan pertandingan sepakbola yang kita liat di TV. Sepakbola atau tidak, tidaklah penting, mereka begitu riuh dan bersemangat memainkan permainan tersebut. Sampai satu ketika permainan terhenti karena dua dari segerombolan anak itu terlibat perdebatan seru dan sengit sampai beberapa kawannya mau tak mau terlibat juga dengan adu mulut khas anak-anak. Padahal masalahnya sepele, hanya saja masing-masing mengungkapkan pemikiran yang berbeda.
Perdebatan semakin lama semakin sengit dan semakin tidak jelas,.. Ya namanya juga anak-anak pikirku.. Tapi setelah itu aku jadi teringat dengan sebuah gambar pada sebuah buku yang pernah kubaca, gambar yang sederhana tapi maknanya tidak sesederhana kelihatannya. Gambarnya seperti di bawah ini

(simpan gambar, di komputer sehingga bisa dibalik)
ketika dilihat gambar ini mewakili
sesuatu yang kelihatannya menurun atau
bergerak dari atas ke bawah(bisa
diasumsikan suatu grafik penurunan dari
sesuatu). Tapi apa yang terjadi jika
gambar ini diputar 180 derajat, tentu
akan berbeda.
Setelah melihat kembali Gambar tersebut aku jadi berpikir ulang apakah sesuatu cukup hanya dipandang dari satu sisi. Apakah akan tampak sama ketika dipandang dari sisi yang berbeda.